| Menjejak Tablanusu, Kampung Wisata Kaya Mujair di Jayapura |
|
|
|
| Monday, 31 May 2010 | |
|
Jalan di Pantai Dapat Bonus Pijat Refleksi Dua tahun sejak dibukanya jalur darat menuju Kampung Tablanusu, pesona pantai dengan hamparan kerikil halus itu kian santer dibicarakan orang. Padahal, tiga tahun lalu kampung itu hanya bisa dijangkau dengan perahu Jhonson (motor) sekitar 25 menit dari ibu kota Distrik (Kecamatan) Depapre. Berjarak sekitar 35 kilometer dari Bandara Sentani, Jayapura, Tablanusu bisa dicapai dalam 50 menit dengan mobil atau motor. Wisatawan yang turun di Bandara Sentani bisa menuju Tablanusu dengan menyewa mobil di bandara. Tarifnya, Rp 500 ribu per hari. Kalau mau irit, banyak juga angkutan umum (taksi). Dari Sentani, pengunjung bisa naik angkot jurusan Sentani-Depapre. Ongkosnya murah meriah, cukup Rp 4 ribu. Jalur Depapre-Tablanusu itu hanya bisa dilalui dengan perahu. Kini sudah ada jalan tembus yang membelah bukit sepanjang tiga kilometer. Dari Terminal Depapre, kini pengunjung bisa memanfaatkan jasa ojek ke Tablanusu. Cukup membayar Rp 7 ribu, kita akan diantar ke kampung eksotis tersebut. Tentu, akan lebih mengesankan bila pakai kendaraan sendiri. Dengan begitu, sewaktu-waktu kita bisa berhenti. Sebab, banyak pemandangan yang menawan di sepanjang jalan tembus itu. Jalan yang berliku naik turun, belantara yang mengapit di kanan kiri jalan, sesekali melintasi perkampungan warga asli dengan rumah mereka yang sederhana dan khas merupakan pemandangan yang tidak tiap hari bisa ditemukan. Mendekati Depapre, bukit-bukit berlapis padang rumput luas seolah mengundang sensasi petuala ngan. Lalu, ... wow! Dari ketinggian, seolah tiba-tiba muncul Teluk Tanah Merah yang membentang biru dengan gundukan pulau kecil di tengahnya. Sungguh cantik. Begitu masuk Kampung Tablanusu, yang pertama menarik perhatian -tak pelak- adalah permukaan daratannya. Tak tampak pasir seperti umumnya kampung di pesisir. Di seantero kampung seluas 230 hektare itu hanya tampak hamparan batu kerikil. Di seluruh dunia, barangkali hanya Tablanusu yang seluruh permukaan daratannya berupa hamparan batu kerikil alami. Konon, sedalam apa pun kita menggali di Tablanusu, yang ada hanya kerikil. Kalau itu benar, tentu menarik bagaimana pohon kelapa tumbuh subur di sana. Bahkan, Tablanusu juga dikenal kaya mangga. Kebanyakan jenis mangga golek. Yang tak kalah mengherankan, hamparan kerikil itu hanya terdapat di Tablanusu. Di desa terdekat pun tidak ada. Wah, tidak bisa berjalan-jalan di pantai dengan telanjang kaki dong? Jangan kecewa dulu. Bebatuan berdiameter 1-5 sentimeter itu halus. Tak perlu takut tergores meski kita berjalan dengan kaki telanjang. Pelancong bahkan menganggap jalan dengan bertelanjang kaki di Tablanusu merupakan keharusan. Kerikil yang seolah berjalan saat diinjak, juga kaki yang seolah ambles beberapa sentimeter tiap menjejak tanah, memang menawarkan sensasi yang tak bisa didapat di sembarang tempat. Memang, dengan kondisi begitu, jalan-jalan di pantai jadi terasa agak berat. Meski begitu, hampir semua pelancong yang datang ke Tablanusu melakukannya. Sebagian sekadar menikmati sensasinya. Sebagian besar lainnya yakin, berjalan-jalan di sana seperti sedang dipijat refleksi secara gratis. Warga setempat bahkan yakin, pengunjung yang sering mengeluh kaki kesemutan atau pegel-pegel akan sembuh setelah berjalan-jalan di pantai yang berkerikil tersebut. "Sepertinya, kerikil itu melancarkan peredaran darah," kata salah seorang pelancong. Sekitar satu kilometer menyusuri jalan utama Kampung Tablanusu, tampak areal pantai yang dipenuhi pohon kelapa. Di areal mirip kebun kelapa nan sejuk itu, tampak sederet pondok kecil yang beratap ijuk. Di beberapa pondok kecil itu, sekelompok wisatawan terlihat membakar ikan. Menggiurkan. Tapi, tunggu. Ikan yang mereka bakar itu sepertinya bukan kakap, baronang, atau ikan laut lain. Benar, ikan tersebut ternyata nila dan mujair. Bagaimana mungkin nila dan mujair bisa hidup di laut? Rupanya, di dekat kampung wisata itu ada Telaga Tablanusu. Telaga tersebut berarir tawar. Dari kejauhan danau itu tampak cantik dilingkari bukit. "Sejak dulu warga setempat terbiasa membudidayakan ikan nila dan mujair dengan karamba di telaga itu," terang salah seorang pelancong yang membakar ikan tersebut. Dari pantai itu tampak dua pulau yang berada agak di tengah laut. Konon, di pulau tersebut terdapat banyak anggrek khas Papua. Pulau itu konon juga jadi persinggahan burung. Menjelang matahari tenggelam, burung-burung yang bertengger di sana menawarkan pemandangan eksotis. Jadi tertarik menginap? Tidak perlu khawatir. Ada Suwae Resort Tablanusu yang menyediakan tem pat menginap nyaman plus rumah panggung yang menghadap laut. Dari rumah panggung itu, pengunjung bisa menikmati pemandangan yang menakjubkan. Menurut Izak Ormuseray, salah seorang staf Suwae Resort Tablanusu, tarif menginap di Suwae Resort Tablanusu cukup Rp 400 ribu sehari. Jika memilih untuk menginap di rumah panggung, tarifnya Rp 500 ribu. "Tarif itu sudah termasuk paket makanan," katanya. Tak ingin menginap di resor? Beberapa warga setempat menyediakan rumahnya untuk disewa pengunjung. Tarifnya sekitar Rp 150 ribu, sudah termasuk makan. Di Tablanusu juga ada restoran serta persewaan pelampung, perahu, dan sampan. Restoran itu memiliki juru masak menu Eropa. Namun, kebanyakan wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, justru ingin mencoba masakan tradisional Tablanusu. Masakan khas yang bisa dipesan, antara lain, papeda ikan, ikan kuah, sayur kangkung, dan bunga pepaya. Ada juga keladi PNG (keladi dengan gula merah) dan betatas. (jpnn/c13/soe) Sumber : Jawa Pos |
| < Prev | Next > |
|---|








